Jumat, 24 Oktober 2014

Studi Banding Ditengah Musibah

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Riau 2012 sudah disediakan dana untuk program studi banding anggota DPRD Riau keluar negeri. Tujuannya, disebut-sebut  ke Australia, Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa atau mencakup tiga benua. Dana yang sudah disediakan sekitar Rp5 miliar.


Ketua DPRD Riau, Johar Firdaus dalam keterangannya kepada pers, mengatakan tujuan studi banding ini kan untuk menambah pengalaman. Dan sebagai dasarnya, dewan ada mendapat undangan dari negara tujuan studi banding. Program ini sudah direncanakan sejak lama. Sedangkan pelaksanaanya dijadwalkan pada akhir tahun ini. Johar sendiri mengaku, kalaupun program itu dilaksanakan, dia tak ikut karena adanya senjumlah kesibukan.

Sedangkan sejumlah anggota DPRD terkesan tetap ingin agar program ini berjalan. Alasannya tentu saja beragam dan bahasanya juga politis dan diplomatis. Seperti mengatakan  kalau studi banding keluar negeri itu sah-sah saja, asalkan memberikan manfaat dan kontribusi untuk daerah. Para anggota DPRD juga berlindung dibalik peraturan dan perundangan-undangan yang tidak melarang untuk melakukan studi banding ke luar negeri.

Sejatinya, program studi banding ke luar negeri memang tidak hanya ada di DPRD Riau. Mulai dari DPR pusat dan bahkan di tingkat DPRD kabupatan kota pun ada yang melakukannya. Sedangkan tanggapan miring terhadap studi banding ke luar negeri sudah banyak dilontarkan sejumlah kalangan. Karena banyak fakta terungkap, studi banding hanya kemasan saja, sedangkan intinya, ya jalan-jalan atau melancong. Dan itu juga sudah menjadi persepsi umum di masyakat.

Di tingkat DPR RI misalnya, sat studi banding ke Australia, anggota DPR dipermalukan oleh mahasiswa Indonesia di sana. Hal serupa juga terjadi saat angota DPR melakukan studi banding ke Jerman, mereka dpermalukan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di sana. Ironisnya, lagi anggota DPR inji juga dipergoki shoping dalam kunjunganya yang hanya dua hari itu.
Sedangkan saat studi banding (hanya) untuk membasa  lambang Palang Merah Indonesia ke Denmark, anggota DPR ketahuan sedang plesiran.

Meski sesungguhnya program studi banding atau pun namanya kunjungan ke luar negeri ini memang tidak melanggar hukum atau peraturan perundangan-undangan, sudah selayaknya anggota legislatif kita untuk berpikir lebih jernih dan menimbang dengan nurani kembali. Sebab, hanya mereka  dan Tuhan lah  yang tahu apakah inti kunjungan ini benar-benar bermanfaat  atau hanya memang  sekedar melancong dengan kemasan studi banding.

Apalagi, sudah sama-sama diketahui publik, suasana dan kondisi psikologis di DPRD Riau sendiri kurang nyaman pasca pengungkapan skandal "Perdagate" venue PON oleh KPK yang saat ini pun proses hukumnya masih sedang berjalan. Tak elok agaknya, sebagian anggota DPRD pergi (jalan-jalan) ke luar negeri, ketika ada rekan-rekannya sedang kena musibah bergumul dengan masalah hukum. Kecuali kalau memang ada yang punya prinsip, "sekarang atau tidak pernah sama sekali". **

 

*Penulis Asril Darma adalah wartawan Harian Haluan Riau yang juga alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Tambah komentar

 Kode keamanan
Segarkan

SEJARAH KAHMI

Sejarah KAHMI
SEJAK berdirinya pada tanggal 17 September 1966, Korps Alumni HMI (KAHMI) senantiasa menjadi perhatian yang cukup pada kalangan HMI, begitu pun proses pengembangan KAHMI...

LINK SITUS

Kontak